fbpx
June 27, 2016

Adversity Quotient : Kunci Emas Siap Tantang Para Penantang

Smart Leaders pernah dengar tidak tentang 9 Quotient? Salah satu dari 9 Quotient itu akan mimin bahas, Penasaran kan? Simak yukk…

Adversity Quotient menurut mimin adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup, dalam hal ini tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. blog ini akan menjelaskan bebarapa hal menyangkut bagaimana kesiapan kita menghadapi tantangan.

Kalau menurut Smart Leaders, apakah Adversity Quotient (AQ) itu? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. singkatnya, orang yang memiliki AQ tinggi akan punya kemungkinan lebih besar mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah.

Faktor-faktor pembentuk adversity quotient menurut Stoltz (2000:92) adalah sebagai berikut :

1. Daya saing

Seligman (Stoltz, 2000: 93) berpendapat bahwa adversity quotient yang rendah dikarenakan tidak adanya daya saing ketika menghadapi
kesulitan, sehingga kehilangan kemampuan untuk menciptakan peluang dalam kesulitan yang dihadapi.

2. Produktivitas

Penelitian yang dilakukan di sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kinerja karyawan dengan respon yang diberikan terhadap kesulitan. Artinya respon konstruktif yang diberikan seseorang terhadap kesulitan akan membantu meningkatkan kinerja lebih baik, dan sebaliknya respon yang destruktif mempunyai kinerja yang rendah.

3. Motivasi

Penelitian yang dilakukan oleh Stoltz (2000: 94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat mampu menciptakan peluang dalam kesulitan, artinya seseorang dengan motivasi yang kuat akan berupaya menyelesaikan kesulitan dengan menggunakan segenap kemampuan.

4. Mengambil resiko

Penelitian yang dilakukan oleh Satterfield dan Seligman (Stoltz,2000:94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient tinggi lebih berani mengambil resiko dari tindakan yang dilakukan. Hal itu dikarenakan seseorang dengan adversity quotient tinggi merespon kesulitan secara lebih konstruktif.

5. Perbaikan

Seseorang dengan adversity quotient yang tinggi senantiasa berupaya mengatasi kesulitan dengan langkah konkrit, yaitu dengan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek agar kesulitan tersebut tidak menjangkau bidang-bidang yang lain.

6. Ketekunan

Seligman menemukan bahwa seseorang yang merespon kesulitan dengan baik akan senantiasa bertahan.

7. Belajar

Menurut Carol Dweck (Stoltz, 2000: 95) membuktikan bahwa anak-anak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola pesimistis.

So, Smart Leaders, itu tadi pembahasan kita mengenai Adversity Quotient. Ada yang punya pendapat lain? Jangan lupa komentar dan share ya Smart Leaders. Happy reading!

~ Artikel ini sudah dibaca 76 kali

Share yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!