May 18, 2017

Cacat Sejak Kecil Bukan Berarti Membuat Anda Menjadi Terbatasi! Anda Juga Bisa Sukses Bahkan Jenius!!

Smart Leaders, masih ingat dengan salah satu buku MIC Publishing dengan judul The Spark? Ternyata The Spark bukan hanya salah satu kisah inspiratif yang ada di dunia. Bagaimana perjuangan seorang ibu yang merawat anak semata wayangnya yang mengidap penyakit difabel hingga menjasi sosok anak jenius yang setara di kalangan orang-orang jenius lainnya. Kisah-kisah dalam buku The Spark juga telah menginspirasi banyak orang hingga bisa seberhasil kisah tokoh dalam buku tersebut.

Konon, jika kita mau percaya dan terus percaya, bahwa sebuah kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil. Benarkah? Ya, ini telah dibuktikan oleh seorang ibu di Tiongkok yang mengasuh bayinya yang difabel sampai sekarang berhasil masuk universitas Harvard.

Kisah itu berawal pada tahun 1988. Sewaktu hendak melahirkan anak pertamanya, bayinya hampir tercekik dan meninggal karena persalinan yang tidak normal. Anak laki-laki itu dinamai Ding Ding.

Namun sayang, bayi itu mengidap kelainan di kepala, cerebral palsy. Dokter rumah sakit di Hubei mengatakan jika bayi ini akan tetap diselamatkan, dia akan tumbuh dengan kecerdasan yang rendah, cacat seumur hidup dan hanya akan menjadi beban.

Mendengar penjelasan dokter ini, suaminya sependapat. Namun ibu anak ini menentang keras. Ia akan menyelamatkan hidup anaknya bagaimanapun caranya. Perbedaan pendapat ini menyebabkan keduanya bercerai. Sejak itu Zou, nama perempuan itu menjadi orang tua tunggal. Ia harus bekerja lebih keras untuk membiayai keluarga, terutama untuk membayar perawatan Ding Ding.

Zou, Single Mother yang bekerja keras merawat anak semata wayangnya yang difabel seorang diri, via http://citizen6.liputan6.com
Zou, Single Mother yang bekerja keras merawat anak semata wayangnya yang difabel seorang diri, via http://citizen6.liputan6.com

Selain bekerja di universitas yang berlokasi di Wuhan, ia bekerja paruh waktu sebagai pelatih protokol dan sebagai penjual polis asuransi. Di tengah kesibukannya itu, Zou secara teratur membawa anak semata wayangnya ke sesi rehabilitasi dan mempelajari pijat terapeutik untuk mengatasi otot kaku anaknya.

Zou juga melakukan terapi pada anaknya untuk merangsang otak dan meningkatkan kecerdasannya. Ibu ini juga gigih mengajari anaknya agar bisa mandiri. Misalnya bagaimana cara memegang sumpit, karena Ding memiliki masalah dalam mengendalikan tangannya.

“Saya tidak ingin dia merasa malu dengan masalah fisiknya,” kata Zou. “Karena dia memiliki kelemahan di beberapa bidang, saya bekerja keras mengajarinya untuk mengejar ketinggalannya, “kata Zou lagi.

Sekarang Ding telah berusia 29 tahun. Ia berterimakasih atas cinta dan pengabdian ibunya yang membantunya berhasil meski fisiknya tidak sempurna. Dia mengatakan, melalui bimbingan ibunya ia berhasil mengatasi banyak tantangan dan bahkan unggul dalam studi akademisnya.

Zou dab Ding ding yang berhasil masuk ke Universitas Harvard, via http://citizen6.liputan6.com
Zou dab Ding ding yang berhasil masuk ke Universitas Harvard, via http://citizen6.liputan6.com

Pada tahun 2011, Ding lulus dari Sekolah Ilmu Pengetahuan dan Teknik Lingkungan Universitas Peking. Kemudian dia mendaftarkan diri untuk mendapatkan gelar master di Sekolah Hukum Internasional. Setelah itu, Ding mendapat pekerjaan selama dua tahun untuk membantu ibunya. Namun, ibunya terus mendorong agar dia melanjutkan studinya di Harvard. Di tengah kesulitan dan rintangan yang ia hadapi dalam hidupnya akhirnya dia diterima. Ding Ding lalu meninggalkan ibunya di Jingzhou, Provinsi Hubei tahun lalu untuk melanjutkan studinya di Universitas Harvard. Dia mengatakan sering merindukan ibunya yang menjadi “mentor spiritualnya”. (Sumber: liputan6.com)

~ Artikel ini sudah dibaca 12 kali

Share yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!