NET TV

Sebuah Channel Televisi Indonesia dengan Program-Program Kreatif Masa Kini yang Edukatif, Net Tv

Hallo Smart Leaders, Bagi sebagian orang, ketika mempunyai waktu senggang, seringkali dimanfaatkan untuk bersantai di rumah apalagi sambil menonton televisi. Menonton televisi memang menjadi kegiatan yang asyik baik di kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Sebagai penikmat acara televisi, kita semua pasti sering menikmati berbagai macam acara yang tayang di televisi dari seluruh channel pertelevisian di…

Continue reading

Fakta Sikap Mau Belajar Bisa Membuat Anda Sukses Ada dalam Cerita ini, Simak Yuk!!

Smart Leaders, siapa sih yang tidak tahu jika Anda melihat gambar pria kecil berkumis tipis, menenteng tongkat, dan mengenakan celana baggy, sepatu kedodoran, dan topi derby, Anda akan segera tahu dia adalah Charlie Chaplin.

Zaman sekarang hampir semua orang mengenalnya. Nyatanya, pada 1910-an hingga 1920-an, ia merupakan tokoh paling terkenal di dunia. Jika kita memperhatikan selebriti zaman sekarang, orang yang bisa disamakan dengannya cuam Michael Jordan. Sayangnya untuk menilai siapa yang lebih terkenal, kita harus menunggu 75 tahun lagi untuk mengetahui seberapa terkenalnya si Michael atau Charlie Caplin.

Charlie Chaplin, via www.google.com
Charlie Chaplin, via www.google.com

Kisah seorang Charlie Chaplin berawal saat dia lahir. Tak ada yang menduga ia akan meraih kesuksesan. Lahir di tengah keluarga miskin, orang tuanya musisi orkestra Inggris. Ia terlunta-lunta di jalanan sejak kecil saat ibunya tinggal di lembaga permasyarakatan.

Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah penampungan dan panti asuhan, ia mulai bekerja di panggung hiburan untuk menafkahi diri sendiri. Pada usia tujuh belas, ia menjadi pemain kawakan. pada 1914, di usia pertengahan dua puluhan, ia bekerja pada Mack Sennett di keystone Studios di hollywood, dengan gaji $150 per minggu. Di tahun pertama bekerja di bisnis film, ia menghasilkan 35 film sebagai aktor, penulis, dan sutradara. Semua orang lantas memuji talentanya, dan kepopuleran Caplin pun meningkat. Setahun kemudian, ia menghasilkan $1.250 per minggu. Lalu pada tahun 1918, ia melakukan sesuatu yang mencengangkan. Ia menandatangani kontrak industri hiburan pertamanya bernilai $1 juta. Ia kaya, terkenal, dan menjadi pembuat film paling berpengaruh di dunia – saat usianya baru mnecapai 29 tahun.

Chaplin meraih kesuksesan karena ia memiliki bakat besar serta semangat pantang menyerah. Namun karakter itu didukung oleh keinginan untuk selalu belajar. Ia bertekad dan berjuang untuk terus bertumbuh, belajar, dan meningkatkan keahlian. bahkan ketika ia sudah jadi penampil paling terkenal dengan bayaran tertinggi di dunia, ia belum puas dengan status tersebut.

Charlie chaplin via http://wallpapersdsc.net
Charlie chaplin via http://wallpapersdsc.net

Hasrat untuk bertumbuh membuatnya sukses secara finansial, dan sikap itu juga membuatnya selalu meraih kesuksesan. pada masa itu, karya Chaplin disambut sebagai hiburan yang mengagumkan. Seirung waktu, ia terkenal sebagai karya besar. ia dipuji sebagai salah satu pembuat film terbesar sepanjang masa. Penulis skrip dan kritikus film, James Agee, menuliskan, “Pantomim terbaik, emosi terdalam, puisi paling indah dan pedih terkandung dalam karya Chaplin.”

Jika Chaplin mengganti rasa haus untuk belajar dengan kesombongan dan kepuasan diri – saat ia meraih kesuksesan – namanya akan sama dengan Ford Sterling atau Ben Turpin. Bintang film bisu yang pernah tenar namun kini dilupakan. Tapi Chaplin tetap bertumbuh dan belajar menjadi aktor, sutradara, dan akhirnya produser film. Ketika pengalaman mengajarkan bahwa para pekerja film haris menjalin hubungan baik dengan studio dan distributor, ia pun mendirikan perusahaan United Artist bersama Douglas fairbanks, Mary Pickford, dan D.W Griffith. Perusahaan film itu masih berproduksi hingga saat ini. (The 21 Indispensable Qualities of a Leader)

Artikel ini sudah dibaca 3 kali

Apa Benar, Jika Ingin Sukses, Harus Membur Dengan Orang-orang Sukses? Cerita Inspirasi Menjawab Pertanyaan Anda

Berawal dari kisah Burung Pelikan yang malas mencari makan hingga semuanya berubah ketika Burung Pelikan pendatang datang dalam kawanan.

Bertahun-tahun, di Monterey, California, menjadi surga bagi pengalengan ikan. Di kota tersebut terdapat banyak pabrik pengalengan ikan. Terlebih, di tempat itulah terletak Cannery Row, jalan yang dipopulerkan penulis peraih Nobel, John Steinbeck, dalam novel yang berjudul sama.

Burung pelikan menyukai kota itu karena nelayan membersihkan hasil tangkapan, lalu membuang limbah. Burung-burung pelikan itu pun akan berpesta memakannya. di Monterey, setiap pelikan pasti kenyang tanpa harus berburu mencari makan.

Tapi seiring waktu, ikan di sepanjang pesisir California pun habis. Satu per satu, pabrik pengalengan ikan gulung tikar. Saat itulah burung-burung pelikan mendapat masalah. Yang sering diketahui oleh banyak orang, bahwa Burung Pelikan adalah pemburu ikan yang hebat. Burung-burung tersebut terbang berkelompok melewati ombak laut. Ketika menemukan ikan, pelikan menyelam dan mencedok buruan. hanya saja, pelikan-pelikan ini tak berburu ikan selama bertahun-tahun. Burung-burung tersebut mengemuk dan malas. Dan saat makanan sulit didapat, burung-burung itu pun kelaparan.

Pemerhati lingkungan di Monterey memperhatikan hal itu dan memutar otak untuk mendapatkan cara menolong burung-burung pelikan. Akhirnya, mereka memperoleh solusi. Mereka mendatangkan burung-burung pelikan dari daerah lain, jenis yang terbiasa terbang ke sana kemari untuk mencari makanan tiap hari. Mereka membaurkannya dengan burung-burung pelikan setempat. Pelikan pendatang segera mencari ikan untuk makanan, dan tak lama kemudian pelikan setempat yang kelaparan bergabung dan mulai berburu ikan.

Intinya dari kisah inspirasi di atas, jika Anda memang sangat ingin meraih kesuksesan, salah satu cara terbaik adalah berbaur dengan-orang-orang sukses, Luangkan waktu bersama mereka. Perhatikan cara mereka bekerja. Pelajari cara mereka berpikir. Anda tentu akan bertransformasi menjadi seperti orang-orang di sekeliling Anda. 

Artikel ini sudah dibaca 2 kali

Cacat Sejak Kecil Bukan Berarti Membuat Anda Menjadi Terbatasi! Anda Juga Bisa Sukses Bahkan Jenius!!

Smart Leaders, masih ingat dengan salah satu buku MIC Publishing dengan judul The Spark? Ternyata The Spark bukan hanya salah satu kisah inspiratif yang ada di dunia. Bagaimana perjuangan seorang ibu yang merawat anak semata wayangnya yang mengidap penyakit difabel hingga menjasi sosok anak jenius yang setara di kalangan orang-orang jenius lainnya. Kisah-kisah dalam buku The Spark juga telah menginspirasi banyak orang hingga bisa seberhasil kisah tokoh dalam buku tersebut.

Konon, jika kita mau percaya dan terus percaya, bahwa sebuah kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil. Benarkah? Ya, ini telah dibuktikan oleh seorang ibu di Tiongkok yang mengasuh bayinya yang difabel sampai sekarang berhasil masuk universitas Harvard.

Kisah itu berawal pada tahun 1988. Sewaktu hendak melahirkan anak pertamanya, bayinya hampir tercekik dan meninggal karena persalinan yang tidak normal. Anak laki-laki itu dinamai Ding Ding.

Namun sayang, bayi itu mengidap kelainan di kepala, cerebral palsy. Dokter rumah sakit di Hubei mengatakan jika bayi ini akan tetap diselamatkan, dia akan tumbuh dengan kecerdasan yang rendah, cacat seumur hidup dan hanya akan menjadi beban.

Mendengar penjelasan dokter ini, suaminya sependapat. Namun ibu anak ini menentang keras. Ia akan menyelamatkan hidup anaknya bagaimanapun caranya. Perbedaan pendapat ini menyebabkan keduanya bercerai. Sejak itu Zou, nama perempuan itu menjadi orang tua tunggal. Ia harus bekerja lebih keras untuk membiayai keluarga, terutama untuk membayar perawatan Ding Ding.

Zou, Single Mother yang bekerja keras merawat anak semata wayangnya yang difabel seorang diri, via http://citizen6.liputan6.com
Zou, Single Mother yang bekerja keras merawat anak semata wayangnya yang difabel seorang diri, via http://citizen6.liputan6.com

Selain bekerja di universitas yang berlokasi di Wuhan, ia bekerja paruh waktu sebagai pelatih protokol dan sebagai penjual polis asuransi. Di tengah kesibukannya itu, Zou secara teratur membawa anak semata wayangnya ke sesi rehabilitasi dan mempelajari pijat terapeutik untuk mengatasi otot kaku anaknya.

Zou juga melakukan terapi pada anaknya untuk merangsang otak dan meningkatkan kecerdasannya. Ibu ini juga gigih mengajari anaknya agar bisa mandiri. Misalnya bagaimana cara memegang sumpit, karena Ding memiliki masalah dalam mengendalikan tangannya.

“Saya tidak ingin dia merasa malu dengan masalah fisiknya,” kata Zou. “Karena dia memiliki kelemahan di beberapa bidang, saya bekerja keras mengajarinya untuk mengejar ketinggalannya, “kata Zou lagi.

Sekarang Ding telah berusia 29 tahun. Ia berterimakasih atas cinta dan pengabdian ibunya yang membantunya berhasil meski fisiknya tidak sempurna. Dia mengatakan, melalui bimbingan ibunya ia berhasil mengatasi banyak tantangan dan bahkan unggul dalam studi akademisnya.

Zou dab Ding ding yang berhasil masuk ke Universitas Harvard, via http://citizen6.liputan6.com
Zou dab Ding ding yang berhasil masuk ke Universitas Harvard, via http://citizen6.liputan6.com

Pada tahun 2011, Ding lulus dari Sekolah Ilmu Pengetahuan dan Teknik Lingkungan Universitas Peking. Kemudian dia mendaftarkan diri untuk mendapatkan gelar master di Sekolah Hukum Internasional. Setelah itu, Ding mendapat pekerjaan selama dua tahun untuk membantu ibunya. Namun, ibunya terus mendorong agar dia melanjutkan studinya di Harvard. Di tengah kesulitan dan rintangan yang ia hadapi dalam hidupnya akhirnya dia diterima. Ding Ding lalu meninggalkan ibunya di Jingzhou, Provinsi Hubei tahun lalu untuk melanjutkan studinya di Universitas Harvard. Dia mengatakan sering merindukan ibunya yang menjadi “mentor spiritualnya”. (Sumber: liputan6.com)

Artikel ini sudah dibaca 2 kali

Terry Fox, via http://pspborden.com/

Smart Leaders, Bersediakah Anda Membayar Harga Untuk Impian Anda?

“Ingatlah selalu bahwa perjuangan dan pergumulan mendahului sukses bahkan ada di dalam kamus.” – Sarah Ban Breathnach. Bersedia Membayar, itulah yang dilakukan oleh seorang Terry Fox. Pada tahun 1977, saat berusia delapan belas tahun, ia didiagnosis menderita kanker tulang. Alhasil, kaki kanannya diamputasi. Saat berada dalam masa pemulihan dan menjalani kemoterapi, ia menyadari jumlah orang-orang…

Continue reading

Mari bergerak dan menangkan pialanany, seperti Mr. jacky Chan, via vanityfair.com

Inspirasi Perjalanan Hidup Jackie Chan: Menyerah adalah Bagian dari Rangkaian Kesuksesan Seseorang!

Siapa yang tak kenal Jackie Chan? Aktor kawakan yang kini berusia 62 tahun ini namanya sudah mendunia, mereka penikmat film aksi-komedi sudah bisa dipastikan akan mengenalnya. Baru-baru ini tepatnya tanggal 12 November 2016, Jackie Chan untuk pertama kalinya mendapatkan penghargaan Oscar setelah 56 tahun berkarya. Ia juga sudah membintangi lebih dari 200 judul film saat ini….

Continue reading

seperti J.K Rowling yang akhirnya menemukan jati dirinya bahwa dia adalah seorang penulis, via notey.com

Smart Leaders, 7 Wanita Sukses Ini Mengajarkan Filosofi “Jika Kamu Sabar Niscaya Hasilnya pun Besar”

Smart Leaders, ungkapan ‘Sukses’ itu tak pernah mengenal batas usia! Setiap orang pasti mendambakan hidup sukses. Hidup sukses tak sekedar menjamin kebebasan finansial saja, namun dapat mencukupi kebutuhan diri sendiri serta keluarga. Hanya saja, tidak semua orang punya hati yang cukup sabar untuk mencapai kesuksesan. Baru mulai dan mendapat kesulitan, mereka memilih mundur teratur. Padahal…

Continue reading

anak-laki-laki-dan-pohon-apel

Kisah Pohon dan Seorang Anak laki-laki

Ada pohon besar di dalam hutan dengan batang yang tebal, banyak dahan besar, dan berdaun rimbun. Seorang anak laki-laki yang kesepian datang ke pohon itu untuk bermain. Anak itu membayangkan ia mendengar pohon itu berkata ramah kepadanya, “Ayo panjatlah aku. Bangunlah rumah bermain kecil di atas sini. Kamu boleh menggunakan dahan kecilku jika kamu mau,…

Continue reading

How to Close A Deal Like Warren Buffett

4 Tips Closing dari Warren Buffett

Smart Leaders, perusahaan kecil punya sumber daya terbatas dan setiap keputusan yang diambil sangatlah krusial. Anda harus tahu kapan harus menyambar peluang dan kapan peluang itu hanya khayalan. Dan tak ada orang yang memahami hal ini lebih baik daripada Warren Buffett. Dalam buku “How to Close A Deal Like Warren Buffett”, penulis meneliti ciri pengambilan…

Continue reading

profil-Thomas-Alva-Edison-1

Belajar dari Kegagalan seorang Thomas Alfa edison

Hallo Smart Leaders, Nah pasti sudah pada kenal kan dengan Thomas Alfa Edison? Dia adalah bapak yang telah menemukan bola lampu seperti yang selalu kita gunakkan di kala malam menyapa. Ternyata keberadaan bola lampu yang kita gunakkan adalah suatu usaha yang tak pernah mengenal kata menyerah yang di lakukan oleh Edison. Perjuangan panjang yang di…

Continue reading

1 2 3