fbpx
September 28, 2015 abraham-lincoln-4thsecret-one-minute-manager-ken-blanchard

Gaya Minta Maaf Ala Abraham Lincoln

Semasa perang saudara, Presiden Abraham Lincoln didatangi oleh colonel Scott, salah seorang komandan pasukan yang menjaga gedung pertemuan kongres A.S, Capitol dari serangan pasukan sekutu di Virginia bagian utara.

Istri Scott mati tenggelam karena kapal uap yang ditumpanginya bertabrakan di Chesapeake Bay dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi Washington untuk merawat suaminya yang sakit.

Scott mengajukan permohonan pada pimpinan resimen agar ia diizinkan menghadiri pemakaman istrinya sekaligus menenangkan anak-anaknya. Permohonan ditolak; pertempuran sepertinya sudah di depan mata dan kehadiran setiap perwira sangat diperlukan.

Namun Scott, yang memang memiliki hak, mengajukan permohonan ke rantai komandan yang lebih tinggi hingga kemudia sampai ke Menteri Pertahanan, Edwin Stanton. Berhubung Staton juga menolak permohonannya, Scott menyampaikan permohonan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Sabtu malamnya, ia langsung menghadap Panglima Angkatan Bersenjata di kantor kepresidenan dan menjadi tamu terakhir yang diizinkan masuk. Lincoln mendengarkan ceritanya dan sepanjang ingatan Scott, tanggapan yang Scott terima dari sang Presiden justru adalah ledakan amarah, “Duh, tak bisakah saya beristirahat? Tak adakah waktu atau tempat di mana saya bisa tidak menangani permintaan-permintaan seperti ini? Kenapa kamu menghadap saya hanya untuk masalah semacam ini? Kenapa kamu tidak pergi saja ke kantor kementerian Pertahanan yang memang berwenang dalam semua urusan administrasi dan transportasi?”

Scott menceritakan penolakan Stanton kepada Lincoln, dan sang Presiden menjawab, “Kalau begitu, mungkin seharusnya kamu tidak pergi meninggalkan tugas. Mr. Stanton adalah orang yang paling tahu apa yang dibutuhkan dalam keadaan seperti ini; ia tahu peraturan-peraturan apa saja yang diperlukan, dan peraturan-peraturan memang dibuat untuk dipatuhi.

Saya akan melakukan kesalahan jika mengabaikan peraturan dan keputusan yang diambil Mr. Stanton; bisa-bisa ini membahayakan pergerakan penting lainnya. Selain itu kamu juga harus ingat bahwa ada banyak tugas lain yang harus saya selesaikan—hanya Tuhan yang tahu betapa banyaknya itu — dan tidak seharusnya saya direpotkan oleh permintaan semacam ini. Kenapa kamu datang ke sini untuk memohon belas kasihan saya?

Tidak sadarkah kamu kita ada dalam situasi perang? Bahwa penderitaan dan kematian menyengsarakan kita semua? Bahwa rasa kemanusiaan dan cinta kasih, yang dengan senang hati kitaberikan di masa damai, telah diinjak-injak dan dimusnahkan oleh perang? Bahwa tak ada lagi tempat bagi perikemanusiaan? Saat ini, hanya ada satu tugas—berjuang!

Setiap keluarga di Negara ini berkubang dalam kesedihan, tetapi jangan sekali-sekali mereka mendatangi saya untuk memohon bantuan. Beban yang saya pikul sudah sangat berat. Pergilah ke Departemen Pertahanan. Urusanmu semestinya dibawa ke sana. Jika mereka tak bisa membantumu, pikullah bebanmu sebagaimana yang dilakukan semua orang hingga perang ini usai. Seluruh kekuatan harus dikerahkan demi menyudahi perang ini.”

Kolonen Scott pun kembali ke baraknya sambil membendung kesedihan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Kolonel Scott mendengar pintunya diketuk. Ia membukanya dan melihat sang Presiden berdiri di sana. Lincoln meraih kedua tangan Scott, memegangnya, sambil mengutarakan maksudnya, ‘Kolonelku yang terhormat, saya telah bersikap kasar kepadamu semalam. Saya tidak bisa membenarkannya dengan dalih apa pun.

Saya memang teramat lelah. Namun, saya sama sekali tak punya hak untuk bersikap kasar kepada orang yang mempertaruhkan nyawa bagi negaranya, apalagi ketika ia sedang dirundung musibah. Saya menyesalinya sepanjang malam dan sekarang datang untuk memohon maaf padamu.’

Katanya, ia  dan Stanton telah mengatur keberangkatan Scott agar perwira itu bisa menghadiri pemakaman istrinya. Dengan kereta kudanya sendiri, Panglima Angkatan Bersenjata itu mengantar Scott ke dermaga kapal uap di Potomac derta mendoakan semoga Tuhan melindunginya.

Sungguh permohonan maaf yang luar biasa,  ucapan maaf Lincoln memang indah. Namun tindakannyalah yang membuat permohonan maaf itu menjadi luar biasa.

Pelajari kisah-kisah inspiratif lainnya untuk meningkatkan kualitas pribadi Anda dalam buku The 4th Secret of The One Minute Manager

karya Ken Blanchard

~ Artikel ini sudah dibaca 35 kali

Share yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!